Ketika Privasi Terenggut: Jeritan di Balik Dinding Kos
Kos, yang seharusnya menjadi rumah kedua dan ruang privat yang aman, seringkali menjadi saksi bisu kejahatan kekerasan seksual. Kasus pemerkosaan di kos bukan lagi isu terpencil, melainkan bayangan kelam yang mengancam rasa aman dan privasi penghuninya.
Tragedi ini seringkali terjadi di balik pintu tertutup, melibatkan pelaku yang bisa jadi adalah orang dikenal, tetangga, bahkan teman. Modus operandi beragam, dari pemanfaatan kelengahan, ancaman, hingga jebakan yang merenggut kontrol dan kebebasan korban di ruang pribadinya sendiri. Kepercayaan yang dibangun di lingkungan tempat tinggal seketika hancur, digantikan oleh trauma dan ketakutan mendalam.
Dampak dari kekerasan seksual di kos jauh melampaui luka fisik. Korban terpaksa hidup dengan trauma mendalam, rasa takut yang menghantui, hilangnya kepercayaan, dan perjuangan panjang untuk memulihkan diri. Ruang yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi penjara memori pahit.
Penting bagi kita untuk tidak tinggal diam. Pertama, edukasi tentang persetujuan (consent) dan batasan pribadi harus terus digalakkan. Kedua, lingkungan kos perlu ditingkatkan keamanannya, baik melalui pengawasan yang lebih ketat dari pemilik kos maupun kepedulian antarpenghuni. Ketiga, korban harus didukung penuh untuk berani melapor dan mendapatkan pendampingan psikologis serta bantuan hukum. Pelaku harus dihukum seberat-beratnya untuk memberikan efek jera dan keadilan bagi korban.
Kasus pemerkosaan di kos adalah alarm keras bagi kita semua. Sudah saatnya kita menciptakan lingkungan yang benar-benar aman, di mana setiap individu merasa terlindungi dan dihargai, bahkan di balik pintu kos mereka sendiri.


