Mahasiswa dan Jerat Kriminal: Ironi di Balik Almamater
Mahasiswa, pilar masa depan bangsa, seringkali diidentikkan dengan intelektualitas dan idealisme. Namun, realitas pahit menunjukkan bahwa tak sedikit dari mereka yang terjerumus dalam lingkaran kriminal. Fenomena ini bukan sekadar noda, melainkan alarm serius bagi kita semua.
Berbagai motif melatarbelakangi keterlibatan mahasiswa dalam tindak pidana, mulai dari tekanan ekonomi, pengaruh lingkungan yang salah, gaya hidup hedonis, hingga kurangnya pengawasan dan bimbingan. Kejahatan yang dilakukan pun beragam, dari penyalahgunaan dan peredaran narkoba, penipuan daring, pencurian, hingga aksi kekerasan atau bahkan kejahatan siber yang lebih kompleks. Mereka mencari jalan pintas untuk uang instan, terperangkap dalam pergaulan negatif, atau sekadar coba-coba yang berujung fatal.
Konsekuensinya fatal: masa depan akademik yang hancur, catatan kriminal yang membekas seumur hidup, serta hilangnya kepercayaan dari keluarga dan masyarakat. Lebih jauh, ini mencoreng reputasi institusi pendidikan dan mengikis harapan akan generasi penerus yang berintegritas.
Fenomena ini menuntut perhatian serius dari berbagai pihak: keluarga, kampus, dan pemerintah. Edukasi moral, penguatan karakter, serta penciptaan lingkungan yang suportif dan positif adalah kunci untuk mencegah lebih banyak lagi mahasiswa terjerumus. Mahasiswa seharusnya menjadi agen perubahan positif, bukan bagian dari masalah.


