Orde Baru: Dari Pembangunan ke Otoritarianisme – Sebuah Kilas Balik
Orde Baru (1966-1998) adalah sebuah babak panjang dalam sejarah modern Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Periode ini ditandai oleh stabilitas politik yang ketat dan fokus masif pada pembangunan ekonomi, namun juga diiringi oleh praktik otoritarianisme yang kuat.
Kelahiran dan Kekuatan
Kelahiran Orde Baru tak lepas dari gejolak politik pasca Gerakan 30 September 1965. Dengan melemahnya kekuasaan Presiden Soekarno, Jenderal Soeharto perlahan mengkonsolidasikan kekuatan, berpuncak pada penyerahan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang menjadi tonggak awal kekuasaannya.
Prioritas Pembangunan dan Stabilitas
Di bawah Orde Baru, prioritas utama adalah pembangunan ekonomi. Melalui rencana pembangunan lima tahun (Repelita) dan dukungan teknokrat, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi signifikan, mencapai swasembada pangan, dan menarik investasi asing. Stabilitas keamanan juga menjadi fokus utama dengan pemberantasan komunisme dan penegasan Pancasila sebagai asas tunggal negara. Dwifungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) memberikan peran ganda militer dalam politik dan sosial, semakin memperkuat kontrol pemerintah.
Sisi Gelap Otoritarianisme
Namun, pembangunan ini datang dengan harga. Orde Baru dikenal dengan corak pemerintahan yang otoriter. Kebebasan sipil, pers, dan berekspresi dibatasi secara ketat. Kritik terhadap pemerintah sering berujung pada penindasan, penangkapan, atau penghilangan paksa. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) juga menjamur, terutama di lingkaran kekuasaan, menciptakan kesenjangan sosial yang mendalam.
Akhir Sebuah Era
Setelah lebih dari tiga dekade berkuasa, Orde Baru runtuh pada tahun 1998, dipicu oleh krisis finansial Asia, gelombang demonstrasi mahasiswa, dan tekanan reformasi yang meluas, memaksa Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.
Warisan yang Kompleks
Warisan Orde Baru tetap menjadi perdebatan hingga kini. Di satu sisi, ia berhasil menciptakan stabilitas dan fondasi ekonomi yang kuat; di sisi lain, ia meninggalkan luka mendalam terkait pelanggaran HAM, pembatasan demokrasi, dan budaya KKN. Orde Baru adalah babak penting yang membentuk wajah Indonesia modern, dengan segala kompleksitas dan kontradiksinya.






