Korban kekerasan dalam pacaran

Ketika Kasih Menjadi Perih: Suara Korban Kekerasan dalam Pacaran

Pacaran seharusnya menjadi fase indah penuh kebahagiaan dan saling mendukung. Namun, bagi sebagian orang, ia berubah menjadi arena perih di mana cinta berbalut kekerasan. Korban kekerasan dalam pacaran adalah mereka yang terjebak dalam hubungan di mana pasangan melakukan tindakan merugikan, baik secara fisik, verbal, emosional, seksual, maupun finansial.

Wajah Kekerasan yang Tersembunyi:

Kekerasan ini seringkali tak kasat mata di awal. Dimulai dari kontrol berlebihan, cemburu tak wajar, merendahkan di depan umum, hingga isolasi dari teman dan keluarga. Perlahan, bisa bergeser ke ancaman, pemaksaan, bahkan kontak fisik yang menyakitkan. Verbal abuse seperti makian dan ejekan, serta emotional abuse yang mengikis rasa percaya diri, sama berbahayanya dengan pukulan.

Dampak yang Menghantui:

Para korban, mayoritas adalah perempuan, seringkali menderita luka yang tak terlihat. Rasa takut, cemas berlebihan, depresi, gangguan tidur, hingga rendah diri menjadi teman sehari-hari. Mereka merasa terjebak, malu, dan sering menyalahkan diri sendiri. Lingkaran kekerasan yang diawali janji manis dan diakhiri penyesalan semu dari pelaku, membuat korban sulit keluar. Mereka berharap pasangannya berubah, padahal siklus itu terus berulang.

Bukan Cinta, Tapi Luka:

Penting untuk disadari: perilaku ini bukanlah bentuk cinta. Cinta sejati adalah tentang penghargaan, rasa aman, dan dukungan timbal balik, bukan dominasi dan rasa sakit. Para korban berhak mendapatkan hubungan yang sehat dan aman.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami hal ini, ketahuilah Anda tidak sendiri. Berani bicara, mencari bantuan dari teman, keluarga, konselor, atau lembaga perlindungan adalah langkah pertama menuju pemulihan. Lepaskan diri dari ikatan beracun ini, karena keselamatan dan kebahagiaan Anda adalah prioritas utama.

Exit mobile version