Olahraga yang Sudah Punah

Gema Lapangan Purba: Kisah Olahraga yang Telah Punah

Dunia olahraga selalu dinamis, berkembang seiring zaman. Namun, tak semua permainan bertahan. Ada yang tenggelam dalam sejarah, meninggalkan jejak misteri dan kekaguman. Mereka adalah gema dari lapangan-lapangan purba, cerminan budaya yang kini telah sirna.

Salah satu contoh paling mencolok adalah Pok-ta-Pok, atau dikenal juga sebagai Ulama, permainan bola kuno dari peradaban Mesoamerika seperti Maya, Aztek, dan Olmec. Ini bukan sekadar olahraga, melainkan ritual suci yang seringkali berujung pada pengorbanan.

Tujuannya sederhana: memasukkan bola karet padat melalui cincin batu tinggi yang terpasang di dinding lapangan. Namun, aturannya sangat menantang; pemain tidak boleh menggunakan tangan atau kaki, hanya siku, lutut, dan pinggul. Mereka mengenakan pakaian pelindung tebal untuk menahan benturan bola yang berat dan cepat. Pertandingan bisa berlangsung berjam-jam, dengan taruhan yang sangat tinggi, bahkan kadang melibatkan nyawa kapten tim yang kalah.

Pok-ta-Pok mencerminkan kosmologi dan kepercayaan masyarakat kuno tersebut, yang melihat permainan ini sebagai representasi perjuangan antara terang dan gelap. Seiring runtuhnya peradaban yang memainkannya dan datangnya penjajah Eropa, Pok-ta-Pok perlahan memudar dan punah, hanya menyisakan reruntuhan lapangan dan relief-relief misterius sebagai saksi bisu kejayaannya.

Kisah Pok-ta-Pok mengingatkan kita bahwa olahraga adalah cerminan peradaban, yang dapat sirna namun tak pernah benar-benar hilang dari ingatan sejarah.

Exit mobile version